So Slow @ Solo

Solo… atau Surakarta, sebuah kota yang terletak di sebuah lembah di kaki Gunung Lawu yang juga merupakan tempat berdirinya Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang bersama dengan Kasultanan Yogjakarta menjadi pondasi dan akar dari kebudayaan Jawa.

Tower and portal of Kraton Surakarta
Image via Wikipedia

Walau Kasunanan Surakarta sekarang hanya menyandang status sebagai simbol serta penjaga budaya, sebagai kota yang merupakan bekas kerajaan Mataram Islam, Solo mempunyai peninggalan sejarah yang sangat melimpah. Hal ini tentu saja sangat menarik bagi wisatawan untuk datang berkunjung dan menikmati sejuknya Solo, lezatnya makanannya, indahnya batik serta keramahtamahan penduduknya.

Dengan ketinggian sekitar 92 meter di atas permukaan laut, Solo cukup sejuk untuk ukuran saya yang tinggal di pesisir utara pulau Jawa. Dengan masyarakat yang cukup homogen serta dialek bahasa Jawa yang berbeda dengan dialek bahasa Jawa pesisiran yang biasa saya gunakan, menjadi pembuka pembicaraan yang cukup mudah karena biasanya dialek pesisiran saya mudah dikenali jika berkumpul dengan teman-teman dari Solo :-P

Saya seorang vegetarian, dan mencari makanan yang sesuai dengan apa yang saya makan adalah sebuah tantangan tersendiri di Solo. Karena saya belum terlalu hapal dengan seluk beluk Kota Solo serta tempat makan yang sesuai dengan pilihan saya, maka nasi liwet atau sego liwet menjadi pilihan yang paling mudah untuk saya.

Selain dapat ditemukan di sepanjang jalan Slamet Riyadi, nasi liwet juga sangat cocok dengan lidah pesisir saya yang kurang suka dengan makanan yang manis. Walau biasanya disertai dengan suwiran daging ayam dan telur, saya masih bisa memesan nasi liwet dengan bacem tahu tempe dan tanpa suwiran daging ayam dan telur.

HIK atau hidangan istimewa kampung juga menu wajib ketika mengunjungi kota ini. Selain untuk tempat jagongan menikmati malam sembari menikmati wedah uwuh atau teh anget dan gorengan yang dipanggang, juga sebagai tempat nongkrong pada malam minggu untuk melihat aktifitas anak muda Solo di malam hari dengan sepeda motor di sepanjang jalan Slamet Riyadi.

Dan walau sudah beberapa kali berkunjung ke Solo, saya belum pernah mengunjungi Laweyan, sebuah landmark yang pernah sangat terkenal jaman dahulu sebagai tempat diproduksinya batik. Dan kebetulan teman-teman dari komuitas blogger Bengawan kemudian mengadakaan acara yang salah satunya adalah telusur Laweyan, maka dengan serta-merta saya langsung mendaftar.

xl solo

Acara yang diadakan oleh teman-teman komunitas blogger Bengawan ini bertajuk SOLO (Sharing Online Lan Offline), yang selain didukung oleh PemKot Solo juga didukung oleh perusahaan telekomunikasi selular XL. Sebuah kegiatan berbagi informasi dan kegiatan oleh blogger baik secara online maupun offline yang kemudian akan ditambahkan sisi bisnis atau usaha yang dapat dipetik dari kegiatan tersebut.

Hal itu yang menjadi alasan saya melihat banyak pengusaha-pengusaha di Solo dan bahkan Walikota Solo Pak Joko Widodo yang menyempatkan diri hadir dan memberikan informasi mengenai acara yang akan diadakan di Solo di waktu yang akan datang.

Menelusuri Laweyan memberikan kesan tersendiri. Tembok-tembok yang tinggi serta gang-gang yang sempit adalah peninggalan atas tradisi dan kegiatan yang dulu pernah begitu berjaya dan menciptakan banyak saudagar-saudagar batik Laweyan.

Selain saya dari Loenpia, masih banyak teman-teman yang lain yang mengikuti jalan-jalan menyusuri kampung batik Laweyan, seperti dari komunitas blogger Madura Plat-M yang sangat rame karena datang dalam jumlah yang melimpah, ada juga Cah-Andong Jogja, TPC dari Surabaya, BeBlog dari Bekasi dan Anging Mammiri dari Makasar.

Perjalanan dari Semarang ke Solo dalam rangka ikut memeriahkan acara yang diadakan oleh komunitas blogger Bengawan saya lakukan dengan naik kereta api dari Stasiun Semarang Poncol ke Stasiun Solo Balapan, sebuah hal yang menjadi nostalgia bagi saya karena dulu ketika masih kecil dan kereta Semarang – Solo masih menggunakan loko dan gerbong, saya bersama keluarga sering berkunjung ke tempat saudara di Purwodadi dengan naik kereta api.

Terima kasih untuk teman-teman Bengawan.
Untuk acara, tempat istirahat dan makanannya.

Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya :
serabi notosuman
lempit utowo lembaran
sego liwet pinggir dalan
rasane podo2 enak tenan

 

3 Comments

sachiko  -  June 20th, 2010 at 9:07 am

lho..kowe ki vegetarian to lek?? ahahhaha..
betewe..di KaTePe saya tertera ‘Surakarta ‘ di baris Tempat lahir.. hehehe..*njuk ngopo*

Tongkonan  -  June 22nd, 2010 at 2:21 am

Solo memang kota yang nyaman untuk ditinggali. :)

Asrul  -  June 22nd, 2010 at 10:48 am

Wahh kapan yah aku bisa ke Solo lagi…. pilih mana Yogya apa Solo

Leave a respond

eber