❊ Remah Roti
  •   ☼  March 18th, 2008

Jauh sebelum terjadi negara ini, dengan kedaulatan yang kemudian diaminkan oleh negara-negara lain sebagai syarat terbentuknya sebuah yang merdeka dari kekuasaan negara lain. Jaman dimana nenek dan kakek moyang berkuasa atas tahan dan air sendiri, berdiri kerajaan-kerajaan dengan struktur sosial ekonomi yang berpusat pada raja dan religi yang menganut paham animisme dan dinamisme walau kemudian tersentuh oleh ajaran religi dari luar.

Agama-agama lain kemudian datang dan merasuk ke dalam urat nadi sosial kemasyarakatan yang kemudian melahirkan pemimpin-pemimpin dan orang-orang yang disegani pada masing-masing kelompok sosial dengan berbagai ilmu kanuragan dan ilmu kebatinan.

Sampai kemudian sekarang kita sering mendengar tentang bagaimana hebatnya kebudayaan bangsa ini dengan berbagai kemampuan magis yang sering menjadi piandel untuk pendekar-pendekar yang kemudian menjadi legenda dan ceritanya ditularkan dari mulut ke kuping.

Bermacam-macam ilmu magis dari berbagai dukun dan orang pintar di seluruh pelosok negeri membuat beberapa dari kita menjadi percaya dengan berbagai alasan. Karena menyaksikan dengan mata kepala sendiri, karena diceritakan oleh leluhur terdahulu atau terlalu sering nonton sinetron di televisi :-P

Ilmu-ilmu magis seperti santet, tenung, gendam, pelet dan lain sebagainya tampak atau diceritakan dengan begitu menarik dan kadang membuat terkesima dengan kehebatan dan kepraktisannya dalam menyelesaikan berbagai persoalan.

Kalo sakit hati dengan seseorang tinggal santet saja, masukkan hape ke dalam kepala terus kalo lagi sebel dengan orang itu tinggal ditelpon dan kepalanya akan bergetar. Atau kalo untuk masalah asmara atau yang behubungan dengan lawan jenis dapat dengan pelet atau susuk yang saat ini banyak diiklankan di mana-mana.

Tapi sebentar…

Saya tidak sedang membicarakan hebatnya semua ilmu magis dan dunia perdukunan. Saya tidak paham dan tidak mengerti untuk hal-hal itu dan cerita diatas hanya yang pernah saya dengar atau tahu dari berbagai sumber yang validitasnya jelas meragukan.

Saya mau ngomong masalah neo colonialism. Sebuah ungkapan yang dilontarkan oleh Bung Karno dan kemudian saya dengar lagi ketika diucapkan oleh Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari di televisi ketika membahas masalah buku beliau It’s Time for the World to Change.

Lalu apa hubungannya perdukunan dan neo colonialism?

Kalau kemudian pertanyaan ini diajukan sebagai sebuah tema skripsi, maka akan ada banyak kemungkinan judul yang muncul atau malah tidak atan ada judul sama sekali karena teralu sibuk memikirkan apa korelasi antara dukun dan kolonialisme.

Indonesia, Nusantara atau sebut apa saja, dengan berbagai sejarah, mitos dan legenda yang diceritakan turun temurun mempunyai begitu banyak dukun, pejuang maupun orang-orang dengan berbagai kelebihan. Tapi kulit putih kemudian datang, mengobrak-abrik semuanya dan menjadikannya semua pecundang.

Lalu kemana semua ilmu santet, ilmu menghilang, ilmu terbang dan ilmu-ilmu yang lain. Kemana semua jagoan dan pejuang yang memiliki jurus yang ampuh? Apa semuanya itu tidak berarti? Kenapa pendekar selalu kalah oleh penjajah?

Semuanya hanya sebatas remah roti. Ketika remah roti itu kemudian ditaburkan, kita saling berebut untuk mendapatkannya walau sedikit saja sampai kita tidak menyadari bahwa sang penabur remah roti itu sedang saling berbagi roti.

6 Comments
Ray says :

Sekarangpun tetap seperti itu, kita masih di jajah, bukan hanya oleh mereka para penjajah asing, tapi oleh saudara sendiri. Ironis dan tragis memang, kita yg dulu jaya dan punya kuasa, hanya karena tangan tangan kotor yg ingin memperkaya diri sendiri, mereka tega menjual negara dan saudara sendiri pada para kapitalis laknat.

Ahh memang pada kenyataannya rakyat kita masih banyak yg mengais kais sampah untuk sekedar mendapatkan remahan roti. lalu dimana nurani mereka yg makan roti dan berbagi roti di gedung perwakilan rakyat? yg dulu mereka berjanji.. ahh sudahlah.. itu kan gak jauh beda dengan sinetron sinetron di televisi saat ini.

*kita selalu kalah, karena mereka punya spiderman, batman, superman, rambo, terminator, fantastic 4, satria baja hitam voltus, power ranger, sedang kita hanya punya mbah dukun, mak lampir, segala macam bentuk setan gentayangan dan bencana :(

adakah anak bumi kandung nusantara ini yang berinisiatif menanam benih padi, memelihara, memanen, kemudian mengolahnya. hingga di suatu masa, rakyat nusantara teringat lagi akan padinya sehingga tak perlu lagi berebut remah roti. pertiwi masih mampu menghidupi putra-putrinya…

di atas bumi kandung, kita harus berdiri.

Yogie says :

Hmmm….

Tapi roti yang enak tetep roti donat..

*lospokus*

bangsari says :

sebentar, saya sangsi kalo bangsa kita punya “budaya”. lha wong yang ada cuma trend, televisi, gaya hidup jakarta yang tak indonesia. saya tak percaya bahwa yang disebut budaya indonesia itu ada.

tabik!

nien says :

panjangan intronya :p
uhm.. mungkin ttg power vs intelligence?

dan ngomong2 ttg roti, itu berbahan impor juga to?
hrsna tak perlu malu pada jagung-ketela-sagu-dll, -bukan cm beras saja-
yg memang udah ada di indonesia

sesy says :

@bangsari: bang, budaya indonesia dan tidak indonesia itu yang mana tho?
@yg nulis. aku seneng remahan roti juga kok mas, pa lagi roti tawar panggang yang di bikin remahan. he hehe




api