
Saya masih ingat dulu ketika berkunjung ke tempat paman dan bibi ketika liburan puasa, ada serial perdana Mandarin di SCTV yang berjudul White Snake Legend. Sekali melihat saya langsung tertarik menyaksikan karena pemeran wanita yang cantik dan menarik ![]()
Sebuah cerita tentang kisah cinta manusia dan siluman yang diangkat dari cerita rakyat yang terkenal di daratan Tiongkok jaman dulu kala.

Setelah beberapa saat kemudian saya menyadari kalau ada banyak versi mengenai cerita siluman ular putih. Kalau di SCTV diceritakan siluman ular putih yang lemah lembut dan bertutur kata halus, di beberapa versi digambarkan juga ular putih yang lebih centil, berani dan nakal membuat fantasi dan bayangan atas cerita ular putih menjadi terdistorsi

Versi terbaru dari cerita ini saya dapatkan secara tidak sengaja di youtube bersamaan dengan saya menemukan film terbaru Donnie Yen yang berjudul Wu Xia. Dari melihat trailer dan serta pemeran seperti Jet Li sebagai Biksu Fa Hai dan Eva Huang sebagai siluman ular putih saya kemudian bergegas mencarinya di torrent.
Film ini di luar harapan saya atas sosok Jet Li yang selama ini melekat di benak saya sebagai jago kungfu yang sangat tangguh karena lebih banyak menyuguhkan drama dan efek visual. Tapi kehadiran Eva Huang sebagai ular putih sangat menyegarkan mata dengan drama cinta yang mengingatkan pada serial White Snake Legend yang pernah saya tonton pertama kali dulu kala.
Karena banyak dicari, saya sertakan OST dari film ini yang berjudul Promise.

Gaya Korea sekarang sedang banyak digandrungi anak muda negeri ini. Dimulai dengan maraknya serial drama Korea yang menggantikan era film-film India, silat Cina dan drama Jepang.
Dari sekian banyaknya serial drama Korea, tidak banyak didapatkan film-film korea sekelas silat-silat Cina yang dibuat dengan koreografi silat yang bagus dan cerita yang beragam.
Salah satu film Korea yang baru saja saya tonton berjudul War of the Arrows. Saya tidak punya alasan khusus mengunduh film ini, hanya saja seed dan leech di salah satu penyedia layanan torrent menunjukkan angka yang banyak, yang artinya banyak yang mengunduh dan banyak yang membagi, artinya lagi banyak yang suka alias bagus
Dari segi cerita, film ini biasa saja, tidak ada yang baru. Cerita tentang seorang kakak yang mahir memanah yang bermaksud menyelamatkan adiknya yang ditawan oleh tentara Manchu ketika desa mereka di Korea diserbu.
Saya tidak tahu detail cerita karena film unduhan saya tidak menyertakan sub-title dalam bahasa Inggris, jadi saya menikmati saja jalan cerita dan dialog pemain yang sama sekali saya tidak tahu artinya.
Karena kamera pocket sudah almarhum dan mayatnya hanya bisa saya semayamkan di dalam laci tanpa pernah saya kuburkan, maka ketika diminta tolong untuk mengabadikan lukisan ke dalam format citra digital melalui kamera, sayapun harus toleh kiri dan kanan untuk mendapatkan seperangkat alat jepret.
Walhasil, setelah berburu pinjaman karena digital ke beberapa teman Loenpia, akhirnya mendapatkan pinjaman kamera Canon EOS 1000D dari Kopril yang sekarang menemukan fungsi baru dan guna kamera digital yang dimilikinya, motret anak lanang.
Karena sudah tidak pernah motret sejak tidak punya kamera apa-apa, dan motret hanya mengandalkan kamera pada perangkat telekomunikasi selular yang kemudian hanya diunggah pada layanan jejaring sosial twitter, sayapun kehilangan pengetahuan atas bagaimana kamera digital slr itu bekerja.

Saya kemudian berasumsi bahwa pada pemotretan citra diam tanpa perlu adanya pengambilan citra dekat dan jauh, maka akan jauh lebih bagus hasilnya jika menggunakan lensa tanpa zoom. Maka berkendaralah saya pada pagi buta menuju Leyangan, Ungaran hanya untuk meminjam lensa EF 50mm f/1.8 II dari Fiandigital.
Dengan teknik fotografi dengan kasta paling rendah yang saya miliki, hasilnya ternyata tidak mengecewakan, well, setidaknya untuk saya.

Hari ini, pagi tadi lebih tepatnya, saya menikmati film hasil unduhan dari torrent malam sebelumnya. Ada dua film yang saya unduh, pertama adalah Tintin dan yang kedua adalah Our Idiot Brother. Dua film yang beda jenis dan beda cerita.
Tintin adalah film animasi 3D dengan cerita yang penuh aksi dan petualangan sedangkan Our Idiot Brother adalah film drama komedi yang menyuguhkan cerita keseharian.
Keduanya bagus, seperti halnya rating di imdb yang memberikan nilai yang baik untuk kedua film. Tapi dengan kondisi dan keadaan saya sekarang, saya jauh lebih bisa menikmati film Our Idiot Brother daripada Tintin.
Tintin biasa saja, ceritanya datar dan menurut saya karakter Tintin terlihat lebih tua dari yang biasa saya lihat dan nikmati di komiknya. Dengan kerutan di dahi dan wajah yang sudah tidak kelihatan imut lagi.
Our Idiot Brother justru bisa membuat saya lebih bisa tertawa dengan kekonyolan kehidupan sehari-hari yang disuguhkan Paul Rudd.
Tapi satu hukum yang saya percaya, beda mata beda cahaya, beda suasana hati beda cara menikmati.