Jam sudah beranjak dari angka 12 dan membuka hari baru, Jumat 12 Juni 2009. Setelah pencernaan diguyur oleh kopi maka kantuk pun kemudian sedikit menjauh meninggalkan mata yang terbuka lebar.
Ketika jam menunjukkan pukul 02.00 dini hari, semua orang sudah terlelap dalam hangatnya selimut dan buaian mimpi yang kemudian menyisakan sendiri karena tiada lagi kawan yang dapat diajak untuk bercengkrama dan berhaha-hihi.
Finder kemudian dibuka dan mencari-cari apa yang sudah pernah diunduh dan disimpan untuk kemudian dinikmati. Ternyata update iDeneb 10.5.7 sudah terunduh beberapa waktu yang lalu namun belum sempat dicoba untuk diinstall.
Maka dengan berbekal komputer titipan bermesin AMD Athlon yang sebelumnya sudah diinstal Hackintosh XxX x86 10.5.6 maka dilakukanlah ngoprek sederhana untuk mengupdate versi Leopard terbaru.
Update dari versi 10.5.6 ke versi 10.5.7 dapat dilakukan dengan mudah dan tiada masalah sama sekali karena iDeneb upgrade 10.5.7 memang bisa untuk distro Hackintosh selain iDeneb sendiri.
Hanya yang menjadi masalah adalah ketika prosesor yang dipakai adalah AMD dan menggunakan kernel Voodoo 9.5.0, maka akan terjadi ketidaksesuaian versi antara seatbelt.kext dan versi dari kernel Voodoo 9.5.0.
Kernel Voodoo 9.5.0 perlu seatbelt.kext versi 10.5.5 sedangkan update iDeneb 10.5.7 akan mengupdate seatbelt ke versi 10.5.6.
Ketidaksesuaian versi kernel dengan seatbelt.kext ini yang kemudian akan menjadikan kernel panic ketika melakukan proses mount file dmg.
Tapi seperti kata pepatah, dimana ada masalah maka disitu ada solusi.
Dan hasilnya sebuah mesin Hackintosh versi 10.5.7 yang bisa menjalankan Safari 4. (Karena Safari 4 tidak bisa diinstal pada Leopard 10.5.6)
*Gambar yang ditampilkan tertulis prosesor Intel Core Duo tapi sebenarnya prosesor adalah AMD Athlon 64 X2, saya malas mengganti detailnya*
Hari minggu ini saya isi dengan bermain Travian dan membetulkan beberapa konfigurasi komputer Windows setelah beberapa hari kemarin dihantam oleh virus Conflicker yang membuat setiap flashdisk yang ditancapkan pada komputer yang terinfeksi akan membuat folder yang bernama Recycler yang mengandung virus.
Membaca beberapa blog yang mengetengahkan informasi teknologi, saya mendapati sebuah program yang cukup membuat saya ingin mencicipi dan mengetahui bagaimana program ini akan bekerja. Sebenarnya ini bukan sebuah program, lebih tepatnya sebuah sistem operasi yaitu Ubuntu yang dibuat menjadi sebuah program portable yang dapat dijalankan di Windows.
Di Windows, Ubuntu portable ini akan dikenali sebagai sebuah program dan dijalankan melalui command prompt dengan mengeksekusi file run_portable_ubuntu yang merupakan file dengan ekstensi .bat yang kemudian di command prompt akan menampilkan proses seperti ketika kita melakukan booting live CD Ubuntu.

Karena saya memakai Leopard, maka Windows saya jalankan menggunakan program virtualisasi dan kemudian menjalankan Ubuntu portable di atas Windows yang divirtualisasi dari Leopard dengan menggunakan VMWare, maka hadirlah Ubuntu di dalam Windows di dalam Leopard
Tiada hal teknis dalam hal ini, hanya saja lucu melihat bagaimana 3 sistem operasi dapat dijalankan bersama-sama secara bertingkat di dalam masing-masing sistem operasi yang lain.
Hari ini Apple Inc. mengeluarkan update untuk jajaran Leopardnya yang sampai saat ini sudah mencapai versi 10.5.6. Menurut Apple, update terbaru ini memperbaiki banyak bug di sistem operasi Leopard dan memberikan peningkatan kepada stabilitas, kompabilitas serta keamanan Mac.

Untuk saya pemakai Hackintosh, adanya update tentu saja memacu hasrat untuk ikut merasakan sensasi akan update terbaru, namun hal ini tentu saja harus diimbangi oleh pikiran rasional yang matang terkait dengan proses serta hasil akhir yang dicapai.
Untuk pemakai Hackintosh yang menggunakan kernel Vanila serta prosessor Intel, proses update tidak banyak menjadi kendala selama tersedia koneksi internet yang mencukupi karena update bisa dilakukan secara langsung melalui menu Software Update atau file updater dapat diunduh dulu untuk kemudian diinstal secara manual.
Yang menjadi kendala adalah hasil akhir yang kadang-kadang berakhir dengan kernel panic atau komputer manjadi hang. Jadi solusi terbaik adalah mencari dan membaca banyak sumber informasi dan mencari waktu luang untuk kemudian mencoba mengupdate Leopard 10.5.5 yang sekarang terpasang menjadi 10.5.6
Menggunakan Hackintosh yang belum terlalu lama membuat saya masih harus banyak belajar dan mengeksplorasi segala fasilitas dan aplikasi yang disediakan baik dari Apple sendiri selaku pencipta MacHackintosh sampai dengan dari pihak ketiga atau para pengembang piranti lunak untuk Mac.

Salah satu yang baru saja saya dapatkan adalah aplikasi pengolah grafis atau foto yang sangat menyenangkan yang bernama Polaroid. Aplikasi ini dapat mengubah hasil jepretan kita atau file gambar menjadi hasil foto yang dihasilkan oleh kamera polaroid.

Dalam prosesnya, aplikasi ini menciptakan proses seperti kamera polaroid dan hasilnya gambar perlahan-lahan terlihat pada kertas polaroid sampai kemudian menjadi jelas. Yang cukup menyenangkan adalah bagaimana gambar yang dihasilkan dalam proses dapat menciptakan kesan vintage atau kesan foto tua
Berurusan dengan sesuatu yang baru biasanya melahirkan dua hal yaitu kegembiraan dan kesedihan. Kegembiraan karena pada umunya sifat kita adalah selalu ingin mengetahui sesuatu yang baru sedangkan kesedihan umunya berhubungan dengan bagaimana sesuatu yang baru tersebut kadang tidak sesuai dengan harapan atau terlalu sulit untuk dipahami.
Menggunakan Hackintosh selama beberapa waktu membuat saya merasakan dua hal tersebut diatas. Satu sisi ada kegembiraan dan kesenangan atas sesuatu yang baru yang dapat saya eksplorasi dan adanya kegiatan mengutak-atik dan disisi lain yang sampai sekarang belum saya temui
Kali ini saya akan bercerita sedikit mengenai printer. Saya termasuk orang yang jarang sekali memakai printer dalam bekerja dan karenanya saya sedikit sekali mengetahui tentang seluk beluk printer dalam artian perangkat keras, sedangkan untuk menginstalasi lebih sering menggunakan ilmu “titen” next > next > next ala Windows.
Printer saya juga tergolong printer yang sudah masuk dalam kategori “museumable” atau layak untuk dimuseumkan. Canon BJC2100SP yang menjadi andalan sudah menemani saya sedemikian lama dengan jumlah refil isi ulang tinta yang sudah tidak terhitung lagi banyaknya dan beberapa kali bahkan terpaksa ganti cartridge.
Dulu, printer ini bisa menyemprotkan tinta pada lembaran kertas dengan baik sampai “kocrot-kocrot”, namun beberapa hari ini, nafasnya sudah tersengal-sengal dan semprotanya menjadi “kicrit-kicrit” yang menyebabkan hasil akhir yang diharapkan menjadi tidak sesuai dengan harapan.

Demi mendapatkan hasil yang baik, saya kemudian mendapatkan “lungsuran” printer Canon Pixma IP1700 bekas yang lumayan baik, dan kemudian ritual instalasi printer saya lakukan lagi. Pada Windows yang menjadi induk semang printer, instalasi tidak pernah lebih mudah daripada next > next > next. Yang menjadi masalah adalah ketika harus menginstal sharing printer Canon Pixma IP1700 ini pada Hackintosh dan menggunakannya dalam jaringan.
Belajar dari BJC2100SP, driver Canon untuk Mac terbukti tidak bisa dipakai untuk printer yang terhubung melalui jaringan. Namun pada BJC2100SP, hal ini dapat diakali dengan menggunakan driver dari Gutenprint.
Untuk Pixma IP1700, ternyata tidak didukung oleh Gutenprint yang mengharuskan saya mengaduk-aduk Google untuk mencari solusi yang dapat menjembatani Hackintosh dan Pixma IP1700 di sistem Windows. Dan ternyata jawabanya adalah piranti lunak berbayar yang bernama PrintFab yang dibuat oleh perusahaan Jerman bernama Zedonet.
Jika Hackintosh yang saya pakai adalah bajakan, maka akan memalukan jika kemudian saya menggunakan program PrintFab ini dengan membayar
Maka Google kemudian sekali lagi saya aduk-aduk dengan harapan menemukan kunci keramat yang dapat membuka kotak 30 hari.

Dan sekarang, Canon Pixma IP1700 terpasang dengan nyaman di Hackintosh dan bekerja dengan baik untuk mencetak melalui printer yang terpasang pada sistem operasi Windows yang terhubung melalui jaringan.