Archive for the 'Ngoceh' Category

Pertaruhan Bakat

Melanjutkan tulisan mengenai American Idol musim ke 7 yang semakin menunjukkan kualitas para peserta, saya tergerak untuk mencari tahu mengenai sistem voting yang digunakan oleh American Idol yang kemudian banyak ditiru oleh berbagai acara sejenis di tanah air.

Membaca tulisan serta ulasan di blogsphere mengenai nasib para peserta ajang pencari bakat di tanah air yang berakhir mengenaskan karena terlilit hutang dan tidak berkembang karena kontrak eksklusif dengan pihak penyelenggara, saya mencoba membandingkan dengan American Idol.

Beberapa kali yang saya lihat pada siaran American Idol adalah bagaimana sang pembawa acara Ryan Seacrest mengklarifikasi secara terus menerus bahwa voting kepada nomor tiap-tiap peserta baik yang melalui panggilan telepon atau SMS baru bisa dilakukan ketika acara telah berakhir dan hanya dibatasi selama 2 jam saja dan yang paling menarik adalah gratis.

Tertarik dengan pernyataan tersebut, saya mengunjungi situs American Idol dan mencoba mengklarifikasi dan menemukan informasi sebagai berikut :
1. Jika menggunakan telepon kabel biasa untuk voting dengan cara menelepon pada nomor telepon voting tiap-tiap peserta maka biayanya gratis.
2. Jika menggunakan handphone untuk voting dengan cara menelepon pada nomor telepon voting tiap-tiap peserta maka biaya per menitnya dihitung.
3. Jika menggunakan SMS provider AT&T untuk voting melalui SMS melalui nomor khusus SMS tiap-tiap peserta (sebanyak 4 digit) maka biayanya standar kirim SMS biasa alias tidak premium.

Hal ini sangat kontras dengan apa yang terjadi dengan ajang-ajang serupa yang di negeri ini. Dimana seingat saya voting hanya dapat dilakukan melalui SMS dan dapat dilakukan kapan saja serta biaya yang dibebankan adalah biaya SMS premium.

Dari yang saya baca di beberapa blog, hal ini menjadi sebuah momok dimana peserta dipaksa untuk selalu “menaikkan taruhan” agar tetap dapat bersaing dan tidak kandas di tengah jalan. Dan alih-alih di dukung oleh masyarakat, ternyata sokongan voting harus diupayakan sendiri oleh keluarga peserta dengan berbagai daya dan upaya termasuk berhutang.

Benar-benar dunia yang kontras.

Agama Untuk Bloger

Negara ini memberikan kebebasan bagi warganya untuk memilih dan memeluk agama sesuai dengan keyakinannya masing-masing. Blog juga memberikan kebebasan bagi penggunanya untuk memilih agama yang dirasa paling sesuai dan baik untuk dipeluk dan diyakini.

Entah itu Wordpress, Blogger, Movable Type atau Text Pattern sekalipun. Saya yakin semuanya itu baik seperti halnya agama yang dibebaskan oleh negara kepada warganya.

Jika agama adalah sarana untuk memuliakan hidup, maka agama blog tersebut di atas yang salah satu atau lebihnya kita anut bisa jadi adalah sarana untuk memulikan tulisan-tulisan yang mampu memberikan pembelajaran agar kita semakin tahu, mengerti dan akhirnya memahami banyak hal melalui sumbangsih tulisan-tulisan berharga yang ditampilkan lewat blog.

Yang penting adalah saling menciptakan kebaikan dan menumbuhkan kerukunan dan komunikasi yang sehat serta membangun antar sesama pengguna blog dan menciptakan dunia penulisan blog menjadi seperti layaknya “heaven on earth” entah apapun agamanya.

Remah Roti

Jauh sebelum terjadi negara ini, dengan kedaulatan yang kemudian diaminkan oleh negara-negara lain sebagai syarat terbentuknya sebuah yang merdeka dari kekuasaan negara lain. Jaman dimana nenek dan kakek moyang berkuasa atas tahan dan air sendiri, berdiri kerajaan-kerajaan dengan struktur sosial ekonomi yang berpusat pada raja dan religi yang menganut paham animisme dan dinamisme walau kemudian tersentuh oleh ajaran religi dari luar.

Agama-agama lain kemudian datang dan merasuk ke dalam urat nadi sosial kemasyarakatan yang kemudian melahirkan pemimpin-pemimpin dan orang-orang yang disegani pada masing-masing kelompok sosial dengan berbagai ilmu kanuragan dan ilmu kebatinan.

Sampai kemudian sekarang kita sering mendengar tentang bagaimana hebatnya kebudayaan bangsa ini dengan berbagai kemampuan magis yang sering menjadi piandel untuk pendekar-pendekar yang kemudian menjadi legenda dan ceritanya ditularkan dari mulut ke kuping.

Bermacam-macam ilmu magis dari berbagai dukun dan orang pintar di seluruh pelosok negeri membuat beberapa dari kita menjadi percaya dengan berbagai alasan. Karena menyaksikan dengan mata kepala sendiri, karena diceritakan oleh leluhur terdahulu atau terlalu sering nonton sinetron di televisi :-P
Ilmu-ilmu magis seperti santet, tenung, gendam, pelet dan lain sebagainya tampak atau diceritakan dengan begitu menarik dan kadang membuat terkesima dengan kehebatan dan kepraktisannya dalam menyelesaikan berbagai persoalan.

Kalo sakit hati dengan seseorang tinggal santet saja, masukkan hape ke dalam kepala terus kalo lagi sebel dengan orang itu tinggal ditelpon dan kepalanya akan bergetar. Atau kalo untuk masalah asmara atau yang behubungan dengan lawan jenis dapat dengan pelet atau susuk yang saat ini banyak diiklankan di mana-mana.

Tapi sebentar…

Saya tidak sedang membicarakan hebatnya semua ilmu magis dan dunia perdukunan. Saya tidak paham dan tidak mengerti untuk hal-hal itu dan cerita diatas hanya yang pernah saya dengar atau tahu dari berbagai sumber yang validitasnya jelas meragukan.

Saya mau ngomong masalah neo colonialism. Sebuah ungkapan yang dilontarkan oleh Bung Karno dan kemudian saya dengar lagi ketika diucapkan oleh Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari di televisi ketika membahas masalah buku beliau It’s Time for the World to Change.

Lalu apa hubungannya perdukunan dan neo colonialism?

Kalau kemudian pertanyaan ini diajukan sebagai sebuah tema skripsi, maka akan ada banyak kemungkinan judul yang muncul atau malah tidak atan ada judul sama sekali karena teralu sibuk memikirkan apa korelasi antara dukun dan kolonialisme.

Indonesia, Nusantara atau sebut apa saja, dengan berbagai sejarah, mitos dan legenda yang diceritakan turun temurun mempunyai begitu banyak dukun, pejuang maupun orang-orang dengan berbagai kelebihan. Tapi kulit putih kemudian datang, mengobrak-abrik semuanya dan menjadikannya semua pecundang.

Lalu kemana semua ilmu santet, ilmu menghilang, ilmu terbang dan ilmu-ilmu yang lain. Kemana semua jagoan dan pejuang yang memiliki jurus yang ampuh? Apa semuanya itu tidak berarti? Kenapa pendekar selalu kalah oleh penjajah?

Semuanya hanya sebatas remah roti. Ketika remah roti itu kemudian ditaburkan, kita saling berebut untuk mendapatkannya walau sedikit saja sampai kita tidak menyadari bahwa sang penabur remah roti itu sedang saling berbagi roti.

Ketika Selesai

Sekarang ini lagi nge-trend, popular dan jamannya menikmati hidup yang enak dan penuh kemudahan. Berbagai kemudahan diciptakan dari kreasi serta pikiran kreatif serta penuh inovasi dari manusia-manusia penghuni dunia.

Dengan dunia yang semakin kapitalis yang dapat dilihat dari perlombaan untuk menjadi paling kaya dan berkuasa, hal ini menjadi sebuah bentuk akomodasi bagi jiwa-jiwa yang tertantang untuk dapat mengalir bersama hentakan irama surga dunia.

Sesuai dengan hukum fisika, dimana ada aksi akan terjadi reaksi. Menggeliatnya sebagian manusia akan berimbas pada sebagian manusia yang lain. Dan sayangnya imbas dari geliat sedikit manusia tersebut kemudian berdampak pada sebagian besar manusia yang lain.

Ketika sedikit orang dengan mudahnya memperoleh kekayaan dan sistem ekonomi dibangun atas dasar yang kaya menjadi semakin kaya dan kalau orang kaya tidak menjadi kaya maka bodoh namanya, maka akan ada banyak manusia yang kemudian harus menjadi tumbal untuk sedikit manusia itu.

Ketika sebagian orang bingung untuk menghabiskan uang yang didapat dengan begitu mudahnya, sebagian besar yang lain mengais ceceran yang mungkin masih dapat mengganjal perut yang bernyanyi tiada berhenti walau barang sekejap.

Dan mati kemudian menjadi solusi. Solusi paling jitu karena derita itu kemudian mungkin akan pergi, perut menjadi kenyang terisi dan tubuh menjadi segar kembali.

Mati alami menjadi pilihan yang cukup rasional. Kelaparan yang mendera hebat yang kemudian disusul dengan tersenyumnya roh kepada dang malaikat penjemput untuk kemudian pergi bersama meninggalkan jasad yang menggelepar tak berdaya.

Atau solusi praktis dengan mengambil alih tugas sang malaikat dengan mencabut nyawa sendiri lewat berbagai versi yang saat ini dapat dipelajari dengan mudah lewat internet.

Tapi tunggu dulu! Adakah dari anda yang sudah pernah mati? Bagaimana rasanya dan apa yang ada di sisi lain kehidupan di sana?

Kalau berpegang pada prinsip “berpikir yang terburuk” maka bunuh diri tampaknya bukan pilihan yang cukup menguntungkan karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, bisa jadi setelah itu tidak menyenangkan dan tidak mengakhiri derita yang ingin ditinggalkan di dunia.

Tapi kalau berpegang pada prinsip “tidak usah berpikir” atau ingin menguji jiwa petualang yang tertoreh di dalam dada, maka bunuh diri mungkin bisa jadi salah satu solusi untuk berpetualang di alam yang lain selagi yang lain belum pernah mengalaminya.

Jiwa tidak mati, tidak sakit dan tidak lapar serta dahaga. Jiwa itu kekal dan tidak perlu segala hal yang berkenaan dengan dunia. Raga itu akan tua, lapar, sakit serta menderita ketika berada di dunia.

Dan ketika jiwa kemudian berpisah dari raga, segala derita duniapun akan sirna, berganti dengan sebuah babak cerita baru yang sampai saat ini saya belum pernah menemukan skenarionya.

*) untuk saudara sebangsa yang kemudian memutuskan untuk mengakhiri hidup atau yang hidupnya berakhir karena himpitan dunia. Andai saja kalian dapat bercerita tentang apa yang ada disana untuk membuat kami agar lebih mawas diri.

Lalu…

Lidah kelu ketika angan membeku
Tangan membatu ketika jiwa bisu

Dan yang ada kemudian
Hanya terang dalam gelap
Dan gelap dalam terang

Bukankah hidup itu pilihan
Bukankah keyakinan itu pakaian
Bukankah akhirnya selalu kematian

Lalu…