Pikiranku sungguh sesak
Pada hal-hal yang kemudian menyeruak
Yang datang silih berganti
Menelanjangi seluruh malas dan bodoh ini
Pada akhirnya
Setelah semuanya
Segala penjelasan
Semua alasan
Pembelaan
Diletakkan saja
Pikiranku sungguh sesak
Pada hal-hal yang kemudian menyeruak
Yang datang silih berganti
Menelanjangi seluruh malas dan bodoh ini
Pada akhirnya
Setelah semuanya
Segala penjelasan
Semua alasan
Pembelaan
Diletakkan saja
Enam tahun yang lalu dan rasanya masih seperti kemarin saja
Perjalanan yang telah tertempuh dengan segala cerita atasnya
Susah, marah, sedih, nelangsa, derita, lapar serta dahaga
Tapi ada juga senang, gembira, bahagia dan sejuta canda
Terima kasih untuk enam tahun yang telah kami lewati
Dengan segala tanjakan dan turunan yang kami alami
Belokan tajam serta jalan curam yang berliku dan terjal
Semua itu untuk mengasah kami supaya jadi lebih handal
Postingan terkait : One Day in This Day
Dan malaikat kemudian menyalakan lentera surya
Menaikkannya di ujung ufuk dan membuat pagi tiba
Mengembalikan jiwa-jiwa kembara ke dalam raga
Malaikatpun kemudian berseru
Telah Dia berikan satu lagi pagi untukmu
Supaya engkau sujud dan beribadah kepada Tuhanmu
Satu nikmat
Buat terpikat
Jadi terikat
Maka tersesat
Pahlawan itu dikenang
Bukan atas apa yang dilakukan
Tapi atas apa yang ditinggalkan
Aku memilih
Untuk tidak memilih
Sebuah keputusan purba
Yang aku pilih sejak dulu kala
Come on… don’t dig your own grave again
Don’t you miss what you have achieved
It should be time to make a switch
And it is now and not later
Dan maka rajutlah asa
Karena sesuatu itu tidak terjadi begitu saja
maukah kita menjadi batu yang mengeraskan jalan
maukah kita menjadi keset yang membersihkan kotoran
maukah kita menjadi atap yang melindungi dari panas
maukah kita menjadi air yang membasuh dan kemudian terbuang
sudikan kita menjadi tidak dikenal atas jasa kita
sudikah kita menjadi susah agar orang lain senang
sudikah kita menjadi tumbal untuk keberhasilan orang lain
sudikah kita mati demi orang yang bahkan kita tidak pernah bertemu
pahlawan-pahlawan itu mau
pahlawan-pahlawan itu sudi dan rela
dan pahlawan itu tidak hanya berkata-kata
mereka semua melakukannya dengan tenaga serta nyawa
maukah kita?
sudikah kita?

Memasuki bulan Oktober, peralihan musim panas ke musim dingin sudah mulai mendekati akhir. Mendung hitam mulai sering menggantung di bawah langit sembari menahan curahan air yang menggelayut manja seakan tiada lagi dapat menahan sabar untuk jatuh menghunjam mayapada.
Hujan kemudian datang dan menghapus dahaga ibu pertiwi setelah selama enam bulan terpanggang teriknya mentari yang seakan membakar semua yang ada dan mengeringkan kerak serta meninggalkan debu yang menari-nari dipandu sang bayu.
Ah… alangkah nikmat aroma tanah basah ini… Alangkah segar napas ibu pertiwi…
Pet…
Tiba-tiba listrik mati, pada setiap saat butir-butir air itu membasahi tanah kami, seakan-akan benang-benang tembaga yang mengalirkan elektron-elektron itu begitu benci dengan air yang membuatnya harus berkali-kali mati.