Pertiwi
Lihat Bu! Airnya naik semakin tinggi
Sudah tiada lagi tepat kering yang dapat ku pijak
Bahkan bapakpun hanya kelihatan kepala dan pundak
Lihat Bu! Mentari menyengat begitu kuat
Peluh tersiram debu yang begitu pekat
Membuat penyakit asmaku kumat
Kenapa akhirnya harus seperti ini Bu?
Kenapa linangan air matamu tak juga membuat kami terharu?
Apakah Ibu harus marah dahulu baru kami mengerti dan tahu
Bahwa begitu berat untuk menggendong kami di atas punggungmu