❊ Antara Nasionalisme, Sophan Sophian, HD dan BBM
  •   ☼  May 17th, 2008

Hari ini ketika blog walking saya menemukan informasi kalau aktor senior Sophan Sophian mengalami kecelakaan ketika mengendarai motor Harley Davidson dalam rangka touring motor besar memperingati 100 tahun hari kebangkitan nasional yang akhirnya merenggut nyawanya.

Ada empat hal pokok yang menjadi pikiran saya yang kemudian membuat saya memutuskan untuk menulis postingan ini, yaitu perwujudan rasa nasionalisme Sophan Sophian yang dilakukan dengan cara touring menggunakan motor Harley Davidson yang termasuk boros dalam konsumsi BBM.

Masing-masing kita sebagai warga negara mempunyai hak yang sama dalam mengungkapan rasa nasionalisme terhadap bangsa dan negara. Entah itu dalam memperingati 100 tahun hari kebangkitan nasional atau hari-hari besar dan bersejarah lainnya di negeri ini.

Touring dengan motor besar juga merupakan salah satu opsi untuk mengungkapkan rasa nasionalisme tersebut walaupun pada umumnya hanya bisa dilakukan oleh anak bangsa yang berkecukupan dari sisi ekonomi dan sosial ditinjau dari harga motor besar yang tentu saja tidak murah. Dan dalam hal ini Sophan Sophian memilih untuk mengungkapkan rasa nasionalismenya dengan melakukan touring menggunakan motor Harley Davidson.

Berita terakhir yang saya lihat di televisi mengenai touring motor besar yang dilakukan oleh Sophan Sophian adalah ketika sebuah SPBU di daerah Pekalongan ditutup untuk umum selama kurang lebih 2 jam untuk melayani pengisian bahan bakar konvoi motor besar tersebut. Dari wawancara yang dilakukan oleh stasiun televisi tersebut, tampak masyarakat yang kecewa atas penutupan SPBU tersebut untuk umum.

Saya bukan termasuk grup penggemar motor besar karena ketidakmampuan saya secara sosial dan ekonomi untuk memiliki motor besar. Saya juga tidak bermasalah dengan kehadiran motor besar yang melakukan touring selama dilakukan dengan baik dan saling menghargai dengan sesama pengguna jalan yang lain. Namun beberapa tulisan yang pernah saya baca di internet menginformasikan beberapa gesekan yang pernah timbul antara pengguna motor besar dan pengguna jalan yang lain dan kekecewaan masyarakat atas penutupan SPBU karena digunakan untuk mengisi BBM konvoi motor besar mungkin juga salah satunya.

Dengan konsumsi BBM 1 liter untuk setiap 7 kilometer, touring motor besar yang diikuti oleh banyak anggota dan dalam jarak tempuh yang jauh menjadi acara yang mengkonsumsi BBM dalam jumlah yang sangat sangat banyak. Dengan kondisi yang naiknya harga minyak dunia yang menyebabkan akan dinaikkannya harga BBM bersubsidi oleh pemerintah dan diberlakukannya pembatasan-pembatasan pembelian BBM hanya sebesar Rp. 15.000 untuk sepeda motor, touring motor besar menjadi agak kontradiktif dari kacamata saya.

Namun seperti yang saya utarakan di atas, setiap warga negara punya hak yang sama dalam mengungkapan rasa nasionalisme terhadap bangsa dan negara, dan saya tetap menghormati apapun pilihan untuk melakukannya termasuk touring motor besar yang dilakukan almarhum Sophan Sophian.

Semoga touring yang dilakukan almarhum Sophan Sophian bermanfaat dalam memupuk rasa nasionalisme bangsa yang semakin pudar. Dan saya turut berduka untuk almarhum dan semoga Tuhan memberikan yang segala yang terbaik atas beliau.

10 Comments
puput says :

hok’o e mas, aku yo mikir ngono. tanpa mengurangi rasa duka cita lho ya, sebaiknya bentuk nasionalisme itu juga update sesuai perkembangan kondisi bangsa, bukan cuma perayaan saja.
seperti misalnya chincha lauwra, dia bilang dia juga nasionalis kok meski gaya bahasa nya gitu. lho to malah tekan ndi ndi..

hehe

lah… bukane chincha lauwra dudu wong indonesia

bodi says :

sepertinya ga terlalu pas menunjukkan rasa nasionalisme dengan konvoi moge disaat harga bbm mo melonjak naek seperti saat ini….. benul ga gan ?? :D

siap!
betul ndan

ninaz says :

bener…mendingan touring dengan sepeda onthel saja…sehat hemat nikmat merakyat, kalo pegel bisa ngelarisin tukang pijat…dan semua pun gembira…

kecuali saya karena saya ngga punya sepeda… :-(

ah….situ melihatnya masih pake kacamata wedhouz sih…
coba tanggalkan, dan pake kacamata sophan plus jendral2 dan juga komisaris2+CEO itu….
pasti beda lagi komengnya…

*sarkas*

yg bikin miris, itu dinas terkait Jati, baru bergerak mbenerin jalan stlh sophan meninggal.
pdhl aku slm 3 bulan thn 2006, sliwar sliwer Yk-Cepu lewat situ, tergoncang2, untung pas ga lg hamil (kl iya kan bisa keguguran, hehehe), didiemin aja.

OOT :jalur sragen tmsk jalur fave-ku. uendaaaah bgt, seneng bgt sama sawah plus backgroung gunungnya….

nganu… bukannya sophan kalo di tipi2 itu ngga pake kacamata :-D

semoga amal beliau diterima di sisiNya.

@restlessangel
udah nyoba rute solo-purwodadi belum >:)

saya sudah… :-D

nonadita says :

mungkin touring tersebut (memang) ada sumbangsihnya untuk masyarakat, jenderal2 penikmat moge itu ada saweran duit tho biasanya? nyumbang2 ala kadarnya gitu…

duh, sayang sekali kalo memang niatnya baik, tapi ternyata pelaksanaannya nyusahin masyarakat kebanyakan (yang seharusnya kehidupan sehari2nya dibantu)… ironis

lha semuanya khan berpulang pada kesempatan dan pilihan
mempunyai kesempatan untuk memiliki sesuatu yang berlebih dan memilih untuk melakukan hal itu
tapi satu hal yang pernah saya dengar bahwa kebaikan itu tidak bisa dipaksakan
karena sesuatu yang menurut kita itu benar belum tentu benar dan baik untuk orang lain

chocoluv says :

hmm,,,
menarik…

kamsud’e?
menarik becak?
menarik pelanggan?
opo menarik dan mengulur?

diditjogja says :

kalo motor sampeyan itu ndak jadi dijual juga termasuk besar buat saya…

thuns says :

inikah hasil dr kesewenang2an para pengguna moge?
masuk tol… trus ampe nutup pom bensin…
siapa sih mereka??? apa jasa mereka dg berkonvoi???
apa gunanya??? AAAAAAAAAAAAARRRRGH

tapi yang perlu diingat… tidak mungkin HD meminum premium… minimal pertamax atau pertamax plus… dan mudah2an aja pemerintah ga bohong kalo pertamax atau pertamax plus adalah tidak disubsidi.




udara