Solo… 11 taun kepungkur…

Ada saat dimana kita berbicara tanpa perlu memakai kepala
Saling melempar cela diselingi dengan canda tawa
Satu dua dari kita lalu merasa kurang nyaman
Dan ansab kadang jadi jawaban instan
Tikar kadang-kadang perlu untuk sesekali dihamparkan
Penonton berdesakan sembari memesan cemilan
Ketika konflik kemudian muncul dipermukaan
Walau kadang-kadang tidak terselesaikan
Ada kamtib yang galak dengan membawa pentungan
Menegur siapa saja tanpa kenal belas kasihan
Namun kita tahu itu demi ketertiban
Supaya semua merasa nyaman
Ketika rasa jadi lebih dari sekedar teman
Jalur pribadi kemudian dimaksimalkan
Ada yang kemudian menjadi pasangan
Tapi ada pula yang masih pendekatan
Dari tiada kenal kemudian menjadi teman
Bahkan mereka yang sekarang di perantauan
Ada pula yang kemudian menjadi hanya saudara
Untuk yang ini, tanyakan kepada Hars apa kamsudnya
Jika aku boleh rindu pada saat ini
Sungguh… aku sangat rindu Ramadhan

Ketika sedang enak-enak ndekem di rumah dan berhaha-hihi dengan teman melalui Adium, saya mendapati kalau telah terjadi hal-hal yang diluar kebiasaan pada jalan di depan rumah. Jika pada biasanya air mengalir dari jalan ke selokan, sekarang ini air mengalir dari selokan ke jalan. Sebuah hal yang telah menerobos batas-batas kewajaran tatanan geografis.
Rob telah datang… ya… rob itu akhirnya telah datang di depan rumah…
Ini kali pertama saya mendapati kenaikan air laut sampai di depan rumah saya setelah sebelumnya hanya menggenangi sebagian kecil saja kawasan tempat tinggal saya. Sebuah hadiah istimewa untuk hari jadi kota Semarang tercinta yang ke 462.
Usia yang seharusnya telah dewasa untuk membuat rob tidak lagi menggenangi kota ini, namun juga bisa berarti umur yang sudah terlalu renta untuk mau menjadi lebih baik.