In this day five years ago
We started it as just only two of us
In the paved garage covered with carpet
With the ceiling which dripping when it’s raining
Those day aren’t history
Those day are story
Something to remember
Something to tell and teach us
Here we are now
In the room and all the facility
With another friends which join to help us
Even still far away from what definition of success is
But we are surely thankful for all the chance
Very enjoy for all the lesson that make us learn
And for all the bless and miracle that is poured to us
There’s no other words except thank you for everything

Kata orang akan ada romantisme setelah hujan
Bagaimana kalau romantisme setelah banjir
Malam hari ini, saya menyadari bahwa ada sesuatu yang terjadi dengan Gmail. Dari sebuah riset yang kemudian direalisasikan dalam layanan surat elektronik milik raksasa mesin pencari Google. Sebuah ide revolusioner yang mengubah cara kita memelihara serta mengorganisasi email yang masuk ke dalam kotak surat kita. Sebuah Multiple Inboxes.
Karena Gmail hadir dengan fitur Label yang mempermudah pengorganisasian surat yang masuk ke inbox kita melalui proses pensortiran sesuai dengan label, maka Multiple Inboxes pada prinsipnya menampilkan satu atau lebih label email kita pada satu jendela utama bersama dengan jendela inbox sehingga kita tidak perlu untuk berpindah-pindah jendela untuk mengecek email dengan label yang berbeda.
Fitur baru Multiple Inboxes dapat diaktifkan melalui tab Lab yang menyerupai gelas kimia berwarna hijau. Setelah fitur Multiple Inbox diaktifkan maka dapat segera diatur tampilan label yang akan ditampilkan dalam jendela utama, berapa banyak baris yang akan ditampilkan serta penempatannya pada jendela utama.

Pada praktek yang saya lakukan dengan monitor wide screen, pilihan Above the inbox maupun below the inbox menjadi pilihan paling rasional untuk tetep dapat membaca subjek email dengan jelas.
Ada yang suka dengan sitkom komedi impor dari negara Paman Sam? Friends, Everybody Loves Raymond, Dharma & Greg atau bahkan 3rd Rock from the Sun.
Jaman dulu, televisi swasta Indonesia banyak sekali menayangkan sitkom komedi impor dari negeri Paman Sam yang membuat saya dengan setia berada di depan televisi untuk mencari hiburan tawa.
Sekarang, ketika sinetron yang menawarkan kekayaan, kebencian, perebutan warisan, gaya hidup bebas dan rok yang tinggi menjadi komoditas jual paling jamak di televisi, keagungan sitkom komedi impor yang mempunyai kualitas tinggi menjadi barang yang langka dan sangat sulit untuk ditemukan di rimba belantara pertelevisian nusantara.
Acara komedi situasi produksi dalam negeri juga tampak semrawut dan membosankan dengan dandanan yang sangat tidak pada tempatnya dan terkesan dibuat-buat sangat. Tontonlah Abdel dan Temon, dan temukan bagaimana sang ibunya Abdel selalu memakai pakaian dan dandanan yang “wah” di setiap scene
Solusi ketiadaan acara sitkom impor mungkin bisa diatasi dengan berlangganan televisi kabel. Dalam kasus ini saya tidak begitu tahu kalau sitkom impor dapat dinikmati lewat televisi kabel karena saya tidak berlangganan. Solusi lain adalah melihat via Hulu kalau anda memakai nomor IP Amerika atau mengunduhnya dari internet.
Adalah 30 Rock yang dibintangi oleh Tina Fey yang berperan sebagai Liz Lemon dan Alex Baldwin berperan sebagai Jack Donaghy yang akhir-akhir ini saya tonton. Sitkom ini mengisahkan kegiatan kru produksi stasiun televisi NBC dalam membuat program acara komedi televisi.
Serial ini cukup menghibur dan mengobati kerinduan saya pada sitkom impor dengan humor-humor cerdas berkualitas yang dulu pernah menghiasi layar kaca Indonesia.