Pernahkan kita menyalahkan iblis, setan dan saudara-saudara sebangsa mereka atas kesalahan yang kita perbuat.
Saya yakin banyak dari kita yang pernah atau bahkan sering melakukannya. Dan karena menjadi hal yang umum maka menumpahkan kesalahan kepada pihak iblis atau setan menjadi hal yang lumrah dan diamini oleh masyarakat selain karena kodrat manusia yang tidak mau mengakui kesalahan sendiri dan hasrat untuk mencari kambing hitam yang tidak pernah lekang dimakan jaman.
Kalau kita runut kembali, siapakah iblis atau setan itu. Menurut pelajaran agama yang pernah saya peroleh dulu, iblis atau setan adalah makhluk Tuhan yang tidak mau bersujud kepada nabi Adam ketika Tuhan berkehendak atas itu. Mereka lalu dikutuk dan bersumpah untuk menggoda manusia agar tidak mengikuti perintah dan tuntunan dari Tuhan.
Jika memang benar seperti itu kejadiannya, maka iblis merupakan makhluk dengan tingkat determinasi dan konsistensi yang sangat tinggi. Terbukti sejak jaman nabi Adam masih di surga sampai detik ini ketika manusia mengais rejeki di dunia mereka masih tetap konsisten melaksanakan janji dan sumpah yang pernah mereka ucapkan tanpa mengenal lelah.
Mereka adalah contoh yang sangat hebat jika berbicara tentang kerja keras yang tidak kenal lelah serta kerja yang terstruktur serta sistematis selama beribu-ribu tahun dengan berbagai objek manusia yang selalu datang silih berganti di dunia. Sistem kerja mereka terbukti sangat bagus dan menghasilkan banyak sukses dengan membuat manusia menjadi kesetanan dan kemudian melupakan Tuhan.
Bagi saya, Tuhan atau iblis tidak pernah memaksa manusia ketika di dunia, yang bisa memaksa manusia di dunia adalah manusia yang lainnya. Tidak pernah sekalipun saya tahu kalau Tuhan memaksa manusia untuk menyembahNya. Ataupun iblis yang memaksa manusia untuk melakukan kejahatan, mencuri misalnya.
Iblis hanya menawarkan pilihan dan manusia kemudian mempunyai kekuasaan untuk memilih. Jika manusia memilih untuk menerima tawaran dari iblis, maka berdosalah dia dari sudut pandang Tuhan. Lalu bagaimana dengan iblisnya? Apakah dia juga berdosa karena manjerumuskan manusia dalam dosa?
Pada konteks ini, iblis seharusnya mendapatkan point sukses atas pekerjaanya dan statusnya sebagai iblis yang perkerjaannya memang menggoda dan menjerumuskan manusia, dan mungkin saja dia akan mendapatkan reward dari komunitas iblis dan mungkin juga akan naik pangkat.
Jika kemudian manusia memilih untuk tidak menerima tawaran iblis, manusia bukannya kemudian akan lepas dari usaha dan jeratan iblis. Mereka akan bekerja lebih keras dan memberikan tawaran yang lebih tidak bisa ditolak dan akan begitu terus sampai manusia kemudian tersandung, terjerembab dan kemudian jatuh ke pelukan iblis.
Lalu apa untungnya buat manusia? Manusia akan menjadi semakin tangguh dan kuat seiring dengan goda dan tipu daya yang dilancarkan oleh iblis kepadanya selama dia dapat bertahan untuk tidak terjerat atasnya.
Sebuah proses simbiosis mutualisme, kerja keras dan pantang menyerah yang sangat mengagumkan bukan? Dan kita masih saja menyalahkan iblis untuk kebodohan-kebodohan kita…