Archive for March, 2008

Ketika Selesai

Sekarang ini lagi nge-trend, popular dan jamannya menikmati hidup yang enak dan penuh kemudahan. Berbagai kemudahan diciptakan dari kreasi serta pikiran kreatif serta penuh inovasi dari manusia-manusia penghuni dunia.

Dengan dunia yang semakin kapitalis yang dapat dilihat dari perlombaan untuk menjadi paling kaya dan berkuasa, hal ini menjadi sebuah bentuk akomodasi bagi jiwa-jiwa yang tertantang untuk dapat mengalir bersama hentakan irama surga dunia.

Sesuai dengan hukum fisika, dimana ada aksi akan terjadi reaksi. Menggeliatnya sebagian manusia akan berimbas pada sebagian manusia yang lain. Dan sayangnya imbas dari geliat sedikit manusia tersebut kemudian berdampak pada sebagian besar manusia yang lain.

Ketika sedikit orang dengan mudahnya memperoleh kekayaan dan sistem ekonomi dibangun atas dasar yang kaya menjadi semakin kaya dan kalau orang kaya tidak menjadi kaya maka bodoh namanya, maka akan ada banyak manusia yang kemudian harus menjadi tumbal untuk sedikit manusia itu.

Ketika sebagian orang bingung untuk menghabiskan uang yang didapat dengan begitu mudahnya, sebagian besar yang lain mengais ceceran yang mungkin masih dapat mengganjal perut yang bernyanyi tiada berhenti walau barang sekejap.

Dan mati kemudian menjadi solusi. Solusi paling jitu karena derita itu kemudian mungkin akan pergi, perut menjadi kenyang terisi dan tubuh menjadi segar kembali.

Mati alami menjadi pilihan yang cukup rasional. Kelaparan yang mendera hebat yang kemudian disusul dengan tersenyumnya roh kepada dang malaikat penjemput untuk kemudian pergi bersama meninggalkan jasad yang menggelepar tak berdaya.

Atau solusi praktis dengan mengambil alih tugas sang malaikat dengan mencabut nyawa sendiri lewat berbagai versi yang saat ini dapat dipelajari dengan mudah lewat internet.

Tapi tunggu dulu! Adakah dari anda yang sudah pernah mati? Bagaimana rasanya dan apa yang ada di sisi lain kehidupan di sana?

Kalau berpegang pada prinsip “berpikir yang terburuk” maka bunuh diri tampaknya bukan pilihan yang cukup menguntungkan karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, bisa jadi setelah itu tidak menyenangkan dan tidak mengakhiri derita yang ingin ditinggalkan di dunia.

Tapi kalau berpegang pada prinsip “tidak usah berpikir” atau ingin menguji jiwa petualang yang tertoreh di dalam dada, maka bunuh diri mungkin bisa jadi salah satu solusi untuk berpetualang di alam yang lain selagi yang lain belum pernah mengalaminya.

Jiwa tidak mati, tidak sakit dan tidak lapar serta dahaga. Jiwa itu kekal dan tidak perlu segala hal yang berkenaan dengan dunia. Raga itu akan tua, lapar, sakit serta menderita ketika berada di dunia.

Dan ketika jiwa kemudian berpisah dari raga, segala derita duniapun akan sirna, berganti dengan sebuah babak cerita baru yang sampai saat ini saya belum pernah menemukan skenarionya.

*) untuk saudara sebangsa yang kemudian memutuskan untuk mengakhiri hidup atau yang hidupnya berakhir karena himpitan dunia. Andai saja kalian dapat bercerita tentang apa yang ada disana untuk membuat kami agar lebih mawas diri.

Linux Mint 4 Daryna

Dalam rangka liburan kecepit yang bagi saya menjadi sangat tidak menyenangkan karena aktivitas kerja yang masih harus saya lakukan pada hari Sabtu, dengan bermodal iseng saya mencoba CD yang dipinjamkam oleh seorang teman.

Dari judul postingan ini, tentu sudah dapat diterka CD apakah yang coba saya mainkan disini. Yup, ini adalah CD program Linux Mint versi 4 yang berjuluk Daryna.

Dengan pengalaman yang belum banyak di Linux, saya pikir CD ini adalah CD installer, maka saya mencoba pada mesin Pentium III dengan memory yang hanya 128 MB, dan ternyata, destop tidak dapat ditampilkan dengan sempurna :-P

Melihat gelagat yang terjadi ketika CD dijalankan yang berupa uploading Gnome Environment dan lain-lain seperti yang pernah saya lihat pada CD live Ubuntu, maka saya kemudian berkesimpulan kalau CD Linux Mint ini adalah CD Live dimana dapat dijalankan tanpa harus diinstal terlebih dahulu ke dalam mesin komputer kita.

Maka kemudian saya pindah ke komputer yang lebih muda dengan memori 512 MB dan ternyata dapat berjalan dengan baik dan lancar. Hal ini dapat dibuktikan dengan postingan ini yang saya tulis menggunakan Gedit yang sudah terpasang pada Linux Mint.

Kesan yang saya lihat dari Linux Mint ini tidak jauh berbeda dengan Ubuntu. Hal ini dikarenakan Linux Mint adalah peranakan dari Linux Ubuntu yang sampai saat ini sudah memasuki versi 7.10 dan pada bulan April mendatang akan terbit very terbaru yaitu versi 8.04.

Dengan processor Intel Celeron 1.60 GHz serta memori 512 MB, Linux Mint Live dapat berjalan dengan cukup ringan ketika menjalankan aplikasi-aplikasi seperti Open Office, Gimp dan beberapa aplikasi lain secara bersamaan.

Linux sudah berevolusi sedemikian rupa dari mainan para maniak komputer menjadi sebuah sistem operasi dengan berbagai kemudahan seperti Windows dan tampilan antar muka yang indah dan menarik seperti Apple.

Tapi untuk saya pemakai sehari-hari Windows dan Microsoft Offce, belum menemukan padanan yang maksimal untuk dapat menggantikan peran Microsoft Office yang sampai saat ini masih mudah untuk saya pakai dalam melakukan aktivitas dengan komputer.

Baik itu dari tampilan, format, serta aktivitas pencetakan dokumen yang masih terkendala ketika menggunakan Open office di Linux.

Dalam aktivitas iseng ini, saya tidak menggunakan Linux Mint untuk melakukan pekerjaan dengan menggunakan Open Office, melakukan pencetakan dokumen atau melakukan koneksi internet, jadi saya tidak bisa menyimpulkan apa saja yang bisa dan tidak bisa dilakukan oleh Daryna ini.

American Idol 2008

Saya rasa kita semua cukup familier dengan judul postingan ini. Sebuah acara pencari bakat dari Inggris yang begitu populer yang kemudian diadopsi oleh banyak negara termasuk Indonesia dengan nama Indonesian Idol dan Amerika dengan nama American Idol yang saat ini memasuki musim tayang ke 7.

Sebenarnya saya tidak begitu mengikuti acara American Idol ini, hanya saja ketika secara tidak sengaja saya melihat tayangan audisinya di televisi nasional saya sangat tercengang dengan talenta dan kualitas vokal dari peserta audisi yang kemudian lolos untuk mengikuti audisi lanjutan di Hollywood.

Semua peserta yang berjumlah 24 yang terbagi dari 12 laki-laki dan 12 perempuan yang lolos pada final American Idol dengan rentang usia yang sangat beragam mulai dari 16 sampai 29 tahun memiliki kualitas suara yang sangat prima serta penampilan dalam menyanyikan lagu yang sangat bagus.

Saya tidak akan membandingkan American Idol dengan Indonesian Idol karena saya tidak secara terus-menerus melihat serta menilai penampil-penampil di acara-acara tersebut. Postingan ini hanya sebagai bentuk apresiasi kekaguman saya atas kualitas vokal para peserta American Idol musim ke 7 yang akhir-akhir ini saya lihat dan nikmati.