Ketika Selesai

Sekarang ini lagi nge-trend, popular dan jamannya menikmati hidup yang enak dan penuh kemudahan. Berbagai kemudahan diciptakan dari kreasi serta pikiran kreatif serta penuh inovasi dari manusia-manusia penghuni dunia.

Dengan dunia yang semakin kapitalis yang dapat dilihat dari perlombaan untuk menjadi paling kaya dan berkuasa, hal ini menjadi sebuah bentuk akomodasi bagi jiwa-jiwa yang tertantang untuk dapat mengalir bersama hentakan irama surga dunia.

Sesuai dengan hukum fisika, dimana ada aksi akan terjadi reaksi. Menggeliatnya sebagian manusia akan berimbas pada sebagian manusia yang lain. Dan sayangnya imbas dari geliat sedikit manusia tersebut kemudian berdampak pada sebagian besar manusia yang lain.

Ketika sedikit orang dengan mudahnya memperoleh kekayaan dan sistem ekonomi dibangun atas dasar yang kaya menjadi semakin kaya dan kalau orang kaya tidak menjadi kaya maka bodoh namanya, maka akan ada banyak manusia yang kemudian harus menjadi tumbal untuk sedikit manusia itu.

Ketika sebagian orang bingung untuk menghabiskan uang yang didapat dengan begitu mudahnya, sebagian besar yang lain mengais ceceran yang mungkin masih dapat mengganjal perut yang bernyanyi tiada berhenti walau barang sekejap.

Dan mati kemudian menjadi solusi. Solusi paling jitu karena derita itu kemudian mungkin akan pergi, perut menjadi kenyang terisi dan tubuh menjadi segar kembali.

Mati alami menjadi pilihan yang cukup rasional. Kelaparan yang mendera hebat yang kemudian disusul dengan tersenyumnya roh kepada dang malaikat penjemput untuk kemudian pergi bersama meninggalkan jasad yang menggelepar tak berdaya.

Atau solusi praktis dengan mengambil alih tugas sang malaikat dengan mencabut nyawa sendiri lewat berbagai versi yang saat ini dapat dipelajari dengan mudah lewat internet.

Tapi tunggu dulu! Adakah dari anda yang sudah pernah mati? Bagaimana rasanya dan apa yang ada di sisi lain kehidupan di sana?

Kalau berpegang pada prinsip “berpikir yang terburuk” maka bunuh diri tampaknya bukan pilihan yang cukup menguntungkan karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, bisa jadi setelah itu tidak menyenangkan dan tidak mengakhiri derita yang ingin ditinggalkan di dunia.

Tapi kalau berpegang pada prinsip “tidak usah berpikir” atau ingin menguji jiwa petualang yang tertoreh di dalam dada, maka bunuh diri mungkin bisa jadi salah satu solusi untuk berpetualang di alam yang lain selagi yang lain belum pernah mengalaminya.

Jiwa tidak mati, tidak sakit dan tidak lapar serta dahaga. Jiwa itu kekal dan tidak perlu segala hal yang berkenaan dengan dunia. Raga itu akan tua, lapar, sakit serta menderita ketika berada di dunia.

Dan ketika jiwa kemudian berpisah dari raga, segala derita duniapun akan sirna, berganti dengan sebuah babak cerita baru yang sampai saat ini saya belum pernah menemukan skenarionya.

*) untuk saudara sebangsa yang kemudian memutuskan untuk mengakhiri hidup atau yang hidupnya berakhir karena himpitan dunia. Andai saja kalian dapat bercerita tentang apa yang ada disana untuk membuat kami agar lebih mawas diri.

8 Responses to “Ketika Selesai”

  1. kumandigital Says:

    diperlukan keberanian untuk mati
    tapi diperlukan lebih keberanian untuk hidup

    hmm… kalo menurut aku sih diperlukan keterampilan untuk hidup :-)

  2. teguh Says:

    kematian adalan proses dalam kehidupan

    bukanya kematian itu tujuan akhir kehidupan?

  3. sascha Says:

    saya pernah mati! tapi bukan karna bunuh diri… :) rasanya… hahaha… sudah lupa tuh! :D

    jangan2 overdosis panadol :-D

  4. didut Says:

    memang kita yg sering mendapatkan kemudahan sekali-kali harus berkaca diri

    yup betoel…
    tapi jangan buruk muka cermin dibelah :-P

  5. nien Says:

    kok tdk begitu simpati kali ini,
    justru gemes dan jengkel…

    *evil mode on* :p

    hmmmph… i think, we need better education for all
    kejauhan yaw… tp entah, itu yg terlintas di pikiran…

    tentang menjadi tegar, menjadi kreatif, menjadi kompetitif
    bertanggung jawab
    tahan banting menghadapi segala suasana

    lho… bukanya kita semua sekarang sudah menjadi semakin tegar, kuat, kompetitif dan kreatif.
    banyak hal yang sudah kita lakukan sendiri tanpa banyak meminta kepada penguasa

  6. d3ptzz Says:

    waduh..kok berat iki omongane…

    berarti kudu dipikul… kalo nanti saya nulis yang ringan boleh lah dijinjing :-P

  7. kian Says:

    mati itu enak ga enahk..tergantung amalan kita di dunia.

    kalo lagi males hidup..inget ama Sang Pencipta,..syukuri yang kita punya, karena disana masih banyak yang lebih parah dari kita..

    kalo lagi semangat hidup..inget juga sama Sang pencipta..bersyukur dan berbagi dengan yang sedang tak beruntung disana.

    ga usah mikir ke belakang mau pun ke depan..bersyukur saja dengan keadaan saat ini..dan berbagilah

  8. h4rs Says:

    makanya dhouzz.. klo macarin anak orang jangan pulang malem2…!!!
    ya dilabrak bapaknya…!!!
    *salah fokus*

Leave a Reply

noah