Mari Bantu Selamatkan Bumi
Gunung meletus, banjir bandang, kebakaran hutan, kemarau panjang, kelaparan dan wabah penyakit.
Bumi tampaknya benar-benar sedang kesakitan, mengerang dan berguling-guling kesana kemari menahan ngilu dan perih yang menusuk-nusuk jantung serta merobek dada dan perut serta mengambil serta mencabik-cabik isinya.
Konsep sosial ekonomi yang memuliakan manusia yang dulu pernah dicetuskan dan sekarang dianut oleh hampir seluruh umat manusia telah menjadi semboyan pembenaran untuk memperkosa ibu pertiwi dan meludahi bapak langit yang senantiasa memberikan kita penghidupan dan perlindungan.
Sebegitu muliakah manusia sehingga merasa bahwa bumi ini dilimpahkan untuk mereka, sebegitu pandainyakah manusia sehingga merasa bahwa pengelolaan bumi dan langit dapat di bebankan di pundaknya. Atau seberapa picik dan bodohnyakah manusia yang kemudian dengan sombong menerima tugas menjadi pemimpin di bumi ini.
Pohon-pohon itu tidak tumbuh dengan sendirinya, gunung-gunung tidak menjulang atas keinginan mereka, sungai-sungai tidak mengalir ke arah yang mereka mau dan binatang-binatang tidak hidup dengan begitu saja, lalu apa bedanya manusia dengan mereka? Bahwa manusia merasa diberikan cipta rasa dan karsa sebagai bentuk aktualisasi dari akal budi?
Bumi dan segala yang ada di dalamnya serta langit yang membentang begitu luas dengan ikhlas menerima manusia yang bersaksi menjadi pemimpin yang kemudian diberikan kepercayaan untuk mengelola dengan segala akal pikiran serta kepandaian dan ilmu pengetahuan yang dikaruniakan kepadanya.
Tapi apa yang terjadi…
Manusia menjadi pendusta dan menistakan kemuliaan yang telah dianugrahkan atas diri mereka. Membuang sifat-sifat kemanusiaan yang ada dalam diri dan menghambakan diri pada nafsu yang seharusnya diberangus oleh turunan sifat-sifat Tuhan yang 99.
Dan ketika akal manusia itu kemudian meraja atas dirinya, membelenggu hati dan jiwa serta menistakan karya Tuhan atas dunia, manusia menjadi semakin menggila dengan menasbihkan dirinya sebagai duplikat Tuhan yang boleh menentukan segalanya, bahkan hidup dan mati karya cipta Tuhan pribadi.
Tumpukan harta setinggi gunung yang menjulang tinggi serta kehidupan yang masih datang ketika mata terbuka di pagi hari. Bukankah semua itu hanya akan tertinggal bersama raga yang akan bersatu dengan bumi ketika jiwa itu kemudian melayang pergi untuk kembali.
Segala kemuliaan manusia ada karena alam memberikannya untuk manusia. Alam bersujud dan dengan tanpa pamrih memberikan segala yang dia punya untuk mencukupi hasrat dan nafsu manusia. Tapi itu semua tidak cukup untuk manusia, tidak pernah cukup untuk dapat memuaskan hasrat manusia yang tiada batas tepinya.
Dan kemudian lagi, tertebaslah kaki sang pohon yang telah berjabat erat dengan ibu pertiwi selama hitungan abad, tergoroklah tenggorokan mahhluk hidup lain pengguni bumi dan tercekik udara oleh racun industri.
Dari semuanya, lalu dimanakah iblis itu berada. Dan apakah lalu Tuhan hanya diam saja.
Dan melihat fenomena, ide mengenai hari akhir yang digulirkan oleh agama saat ini tampaknya sudah bukan lagi hal yang menakutkan untuk manusia. Menilik bahwa manusialah yang kemudian memupunyai andil untuk memulai terjadinya hari akhir tersebut dengan segala polah tingkahnya di atas bumi ini.
December 16th, 2007 at 9:19 pm
ceileh, begitu puitisnya postingan ini … SAY NO TO PLASTIC & START FROM URSELF!!!!
December 17th, 2007 at 8:40 am
ayo2 mulai tanam2 pohon, kurangi pemakaian kertas, plastik, tissu…
December 18th, 2007 at 1:21 am
kok ora konferensi pers? :p
uhm… “Manusia Makin Boros, Perlu Tiga Bumi”
stiker di mobil dosen yg kata2nya lgsung nancep ke otak dan hatiku
sayang, bumi so far baru ditemu ya satu ini…
December 18th, 2007 at 3:02 pm
ehm… memang sih…
AYO KITA BANGUN KOMPETENSI KAN HAL INI PADA GENERASI ABAD INI. SEMOGA SAJA BUMI MASIH MAMPU MENAPAKI WAKTUNYA UNTUK HARI DEPAN YANG LEBIH INDAH…
OK CHOY………
December 18th, 2007 at 8:23 pm
kita juga ikut andil ya, dhouz? hiks …
mari mulai dari diri sendiri … sekecil apapun bentuknya …