Kematian tampaknya sedikit lebih akrab dengan saya akhir-akhir ini. Saya percaya dan yakin bahwa rahasia kehidupan dan kematian hanya ada dalam catatan yang dibawa oleh Tuhan semata dan tiada kita manusia yang mengetahuinya.
Setelah seorang teman meninggal dalam usia 31 tahun yang menurut saya masih muda, hari Kamis kemarin kakak sepupu saya dijemput oleh malaikat untuk menghadap Tuhan pada usia yang masih relatif muda, 36 tahun.
Dengan anak pertama yang masih ada dalam kandungan istrinya, membuat kehilangan ini menjadi lebih berat bagi keluarga terutama bagi istrinya. Saat-saat bahagia dimana seharusnya sang istri mendapatkan kasih sayang serta ditunggui oleh suaminya baik ketika masih mengandung maupun nanti ketika melahirkan menjadi saat yang berat.
Hal ini membuat saya berpikir tentang betapa Tuhan mengetahui segala hal yang baik dan benar bagi hambanya dan tiada kita pernah tahu apa yang baik dan benar itu untuk kita. Seseorang pernah ngomong dengan saya bahwa apa yang kita pikir baik menurut kita belum tentu baik menurut Tuhan, tapi apa yang baik menurut Tuhan pasti baik untuk kita walaupun kadang kita manusia kadang salah mengartikan.
Kita biasanya mengukur hidup kita di dunia dengan ukuran kebahagiaan dan kesedihan. Untuk berbagai hal yang menyenangkan kita di dunia ini baik dalam sisi ketercukupan materi, rohani maupun segala bentuk pencapaian akan keberhasilan sering membuat kita merasa bahwa kita bahagia hidup di dunia atau orang lain menganggap kita bahagia.
Tapi apa jaminan bahwa besok segalanya masih akan tetap seperti itu. Bahwa segala kebahagiaan yang kita punya saat ini masih akan tetap sama ketika hari telah berganti. Boleh kan kesedihan yang sudah mengantri itu kemudian mengambil giliran datang kepada kita dan menggantikan kebahagiaan yang kita rasakan. Dan begitu pula sebaliknya dengan kesedihan.
Lalu, adakah kebahagiaan di dunia ini?