ronanya
kutunggangi angin
kugembalakan awan
kusebarkan butir hujan
kubelai pertiwi
biru bak rubi
bumi ini
kutunggangi angin
kugembalakan awan
kusebarkan butir hujan
kubelai pertiwi
biru bak rubi
bumi ini
ternyata tidak gampang untuk lepas dari yang namanya teknologi di saat seperti sekarang ini. ketika kemudian secara pribadi saya memutuskan untuk menghentikan sementara aktifitas messenger saya, datang undangan dari seorang teman lama untuk saling bertukar cerita.
selain itu datang pula ajakan dari kolega untuk membahas beberapa hal melalui messenger sebagai sarana paling mudah dan murah untuk berkomunikasi antar kota dan antar negara.
wah payah nih, mbok pake email saja apa kurang apdol ya. akhirnya, skype dan gtalk kembali menghuni partisi.
sial kalian semua memang…
pekerjaan hari minggu ini membuat pantat saya tidak bisa berada di atas sadel sepeda seperti yang biasa saya lakukan dan hanya menempel di atas kursi kayu ini seharian. mata yang seharusnya memandang keindahan pemandangn sepanjang perjalanan yang biasa saya lihat kini hanya tertuju pada sebuah kotak di atas meja yang terus-terusan menyala terang sepanjang hari sejak beberapa hari yang lalu. dan tubuh yang seharusnya terhempas panasnya udara musim pancaroba dan kepulan pekat solar yang keluar dari moncong knalpot bus dan truk tua brengsek kini hanya tersiram guyuran angin cendela yang tiada menyehatkan raga. kalo sudah begini, saatnya mencuci sepatu yang terguyur hujan kemarin sembari membuka peta melihat rute perjalanan selanjutnya.
kadang kita berkata bahwa kita ini sudah dewasa dan mandiri
dengan lantang kita berkata bahwa inilah dunia dan akan kita hadapi
untuk segala konsekuensi dari segala tindakan dan dimana kita adalah kita
dan segala masalah yang merundung kita adalah obat untuk beranjak dewasa
dewasa itu dapat memutuskan dan mengatur pilihan dalam hidup kita
mandiri itu sebuah konsekuensi yang terjadi untuk menjadi dewasa
ketika kita kemudian menjadi dewasa dan dituntut untuk mandiri
kita tidak lalu harus melakukan dan memutuskan segalanya seorang diri
mentari jingga itu mulai menggelayut manja di pundak sang senja
seakan ingin berkata bahwa sudah saatnya untuk menutup mata
bentangan lelah sayap burung-burung yang sudah seharian terbang
menjadi saksi betapa hidup membutuhkan lebih dari sekedar angan