❊ ronanya
  •   ☼  November 21st, 2006

kutunggangi angin
kugembalakan awan
kusebarkan butir hujan
kubelai pertiwi
biru bak rubi
bumi ini

❊ messenger oh messenger
  •   ☼  November 19th, 2006

ternyata tidak gampang untuk lepas dari yang namanya teknologi di saat seperti sekarang ini. ketika kemudian secara pribadi saya memutuskan untuk menghentikan sementara aktifitas messenger saya, datang undangan dari seorang teman lama untuk saling bertukar cerita.

selain itu datang pula ajakan dari kolega untuk membahas beberapa hal melalui messenger sebagai sarana paling mudah dan murah untuk berkomunikasi antar kota dan antar negara.

wah payah nih, mbok pake email saja apa kurang apdol ya. akhirnya, skype dan gtalk kembali menghuni partisi.

sial kalian semua memang…

❊ absen nglayap
  •   ☼  November 19th, 2006

pekerjaan hari minggu ini membuat pantat saya tidak bisa berada di atas sadel sepeda seperti yang biasa saya lakukan dan hanya menempel di atas kursi kayu ini seharian. mata yang seharusnya memandang keindahan pemandangn sepanjang perjalanan yang biasa saya lihat kini hanya tertuju pada sebuah kotak di atas meja yang terus-terusan menyala terang sepanjang hari sejak beberapa hari yang lalu. dan tubuh yang seharusnya terhempas panasnya udara musim pancaroba dan kepulan pekat solar yang keluar dari moncong knalpot bus dan truk tua brengsek kini hanya tersiram guyuran angin cendela yang tiada menyehatkan raga. kalo sudah begini, saatnya mencuci sepatu yang terguyur hujan kemarin sembari membuka peta melihat rute perjalanan selanjutnya.

❊ dewasa dan mandiri
  •   ☼  November 19th, 2006

kadang kita berkata bahwa kita ini sudah dewasa dan mandiri
dengan lantang kita berkata bahwa inilah dunia dan akan kita hadapi
untuk segala konsekuensi dari segala tindakan dan dimana kita adalah kita
dan segala masalah yang merundung kita adalah obat untuk beranjak dewasa
dewasa itu dapat memutuskan dan mengatur pilihan dalam hidup kita
mandiri itu sebuah konsekuensi yang terjadi untuk menjadi dewasa
ketika kita kemudian menjadi dewasa dan dituntut untuk mandiri
kita tidak lalu harus melakukan dan memutuskan segalanya seorang diri

❊ angan kehidupan
  •   ☼  November 18th, 2006

mentari jingga itu mulai menggelayut manja di pundak sang senja
seakan ingin berkata bahwa sudah saatnya untuk menutup mata
bentangan lelah sayap burung-burung yang sudah seharian terbang
menjadi saksi betapa hidup membutuhkan lebih dari sekedar angan

❊ photo with/out flash
  •   ☼  November 18th, 2006

flash

❊ vandalisme it?
  •   ☼  November 17th, 2006

vandalisme it?

❊ aah
  •   ☼  November 16th, 2006

esok hari aku ada janji dengan mentari
tapi bulan tampak begitu indah malam ini
bahkan ketika hujan mengguyur bumi
aku masih mencari bintang untuk ku curi

❊ akhirnya…
  •   ☼  November 15th, 2006

akhirnya saya sudah bisa memutuskan
untuk sesuatu yang dulu terasa begitu sulit
kini sudah mulai menjadi ringan untuk dilakukan
beban tanggung jawab itu sudah berkurang
ketika tuntutan kemudian mulai dilupakan
saya bisa istirahat dengan tenang

❊ oglangan
  •   ☼  November 15th, 2006
mati lampu

kemarin sore sekitar jam 6 ketika sedang enak-enaknya mengistirahatkan pikiran dan badan dari aktivitas dan rutinitas kerja dengan browsing dan cek email, secara mendadak sontak tanpa ada kabar berita sebelumnya, tiba-tiba listriknya mati alias isdet alias modyar alias oglangan.

saya tahu dan mendengar istilah oglangan (yang kalau kata banyak orang istilah tersebut berasal dari solo) pertama kali dari ibu saya. setahu saya istilah oglangan saat ini identik dengan kondisi mati lampu akibat terputusnya aliran listrik dari pln.

padahal kalau menilik penjelasan yang pernah diberikan oleh ibu saya, oglangan mempunyai arti bergantian. lalu ada hubungannya dengan pln dan listrik serta mati lampu. menurut penjelasan ibu saya lagi, karena pada jaman dahulu kala ketika harga-harga masih murah dan untuk nonton tipi harus ke balai desa, listrik masih sangat jarang dan hanya dapat dinikmati sekelompok orang saja.

nah, untuk memeratakan jatah pembagian listrik supaya ada lebih banyak orang sesama warga negara indonesia yang merasakan atau setidaknya ngicipi setrum, maka dilakukan pembagian listrik secara bergantian, yang istilah kerennya sekarang adalah pemadaman bergilir.

karena listriknya digilir atau dioglang, maka sebagai orang jawa tulen, istilah “mati lampu akibat pemutusan listrik oleh pln untuk dialirkan ke tempat lain” itu kemudian dipermudah pengucapannya dengan sebutan oglangan.

dan ketika kemudian listrik sudah mulai menjangkau wilayah yang lebih luas dan prosentase pemadaman listrik secara bergilir sudah semakin menurun, masyarakat sudah terlanjur menyebut keaadan mati lampu dengan istilah oglangan walau padamnya listrik tersebut tidak karena pengalihan daya.

tapi saya tidak tahu apakah penjelasan dari ibu saya tersebut valid dan dapat dipertanggungjawabkan di depan sidang skripsi, tetapi kalau saya pikirkan secara rasional, kemungkinan besar memang benar :-)